Langsung ke konten utama

Berdamai dengan masa lalu

Hari ini saya berada di pojok sebuah restoran cepat saji, di luar hujan masih saja turun, hingga gerimisnya mengenangi sebagian kenangan atas Jakarta. Dingin sekali disini. Entah kenapa restoran cepat saji ini memasang suhu yang terlalu dingin untuk pendingin ruangan, atau ini perasaanku saja.
Saat ini Thamrin sedang tergenang, akibat hujan yang datang berlebihan. Seperti biasa, sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik.


























Hujan seperti halnya kenangan, terkadang datang tiba-tiba, meluapkan ruang-ruang kenyataan  membawa kita lupa pada perasaan kalah, pada ketakutan, pada intimidasi hari esok. Kita membutuhkan ingatan atas kenangan, agar kita mampu melihat hari esok lebih bijak dan menjadi lebih optimis bukan menjadi begitu pesimis.

"Orang yang optimis membuat pesawat, orang yang pesimis membuat parasut" ada benarnya memang kutipan ini.

Tulisan saya sebelumnya menyimpan makna-makna ketakutan, dan mengajarkan pesimisme menaklukkan kenangan. Saya pikir tidak ada salahnya seperti itu, karena itu mengajarkan kita untuk menjadi bijak. Seperti diungkap Sujiwo Tedjo " yang lebih luas dari air hujan adalah sela-selanya, maka jangan kau tak berkutik menghadapi derasnya aturan hidup". Kenangan adalah sebuah hukum yang tak bisa dihapus, bahkan terkadang kita gunakan untuk meratifikasi masa depan, apapun itu hidup bukanlah melupa kenangan, yang perlu di buat adalah perdamaian dengan kenangan masa lalu.

Saya cenderung untuk memilih mengumpamakan hidup seperti berkendara mobil, dijalan hidup kita sangat perlu sesekali melihat kebelakang melalui kaca spion kenangan agar kita bisa tahu kapan saat berbelok atau mendahului paling tepat, tapi jangan terlalu lama melihat kebelakang karena hal itu justru membuatmu tidak tahu pilihan-pilihan yang disediakan masa depan.

Ah, sudahlah, pojok restauran ini menjadi semakin dingin, mungkin saatnya harus pulang, naik motor yang (sayangnya) tidak dilengkapi kaca spion.  (dp)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Minum teh di Rusia

Got dark. On a table, shining, The evening samovar hissed, The Chinese teapot heating up, Under it curled easy pairs … (Aleksander Pushkin)            Teh atau dalam bahasa ilmiah Camellia sinensis telah dikonsumsi oleh bangsa Cina lebih dari 5000 tahun. Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap itu, tetapi legenda populer dapat memberi pengetahuan kepada kita. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung, diperkirakan sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Menurut legenda pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut, Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut....

Hidup adalah Pertaruhan, beranikah kamu bertaruh untukku?

Sebagai manusia kita tentu pernah pada sebuah posisi sulit, pada proses pencarian tak berujung. Terkadang kita bertanya-tanya, kemana hidup akan membawa kita pergi, apakah ketempat harapan bersandar ataukah ke peraduan bersemayamnya kekecewaan dan cobaan. Jawabanya: tidak ada yang tahu. Satu-satunya yang pasti di dunia ini hanyalah bahwa kita akan mati, selebihnya tidak ada yang tahu.  Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan untuk "tahu" apa yang kita sukai, yakini atau cintai. Apakah sesuatu yang kita yakini atau seseorang yang kita cintai itu merupakan ujung pintu takdir; tidak ada yang tahu. Hidup adalah pertaruhan, karena kita tidak pernah tahu kemana takdir akan mengantarkan kita.  Kadang kita ditantang untuk melihat kebelakang saat seolah-olah didepan kita dihadang tembok tinggi kemustahilan, saat seolah-olah dunia memusuhi kita atau saat seolah-olah hanya kita yang bergelut dengan kenyataan. Hanya satu yang bisa saya katakan: jangan takut. Kegagalan, kekecewa...