Langsung ke konten utama

Bapak dan Ibuku, Terima kasih!

Ini bukan drama prosaik yang dimaksudkan untuk membuat pembacanya trenyuh bukan pula kisah heroik tentang pahlawan pembawa perubahan. Ini hanya cerita sederhana; selembar ucapan terima kasih. Kepada sepasang guru, yang biasa aku sebut Bapak dan Ibu.

Aku dilahirkan disebuah desa kecil diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berdasar pembagian wilayah administratif desa itu berada di Kabupaten Wonogiri berbatasan langsung dengan Ponorogo. Hampir tak ada yang spesial dari desa ini, selain senyum ramah sapa warganya, hanya tanah kering tandus dan kemiskinan yang menjadi wajah lusuh desa kami. Tak heran, desa kelahiraku mendapat proyek bantuan IDT semasa Soeharto. Memang benar-benar desa tertinggal. Seingatku, listrik baru masuk menjelang aku lulus SD. Menonton televisi adalah kemewahan, beruntung keluarga simbah dulu punya satu, yang membuat rumah Simbah menjadi bioskop umum saat ada pertandingan tinju. Dulu, orang dikampungku ramah dan lucu-lucu. Ah, sudah aku tidak akan bercerita disini mengenai kampungku, mungkin lain waktu.

Sudah lama aku tidak menulis -selain karena aku memang pemalas- pekerjaan dan kewajiban kuliah terasa terlalu berat jika “dibebani” tambahan pekerjaan menulis. Kebetulan pagi tadi, lini masa twitter berhamburan taggar guru dengan beragam variasi, memancing otakku mengaduk-aduk semua memori yang pernah tertangkap mengenai guru muncul kembali ke permukaan, ada hal yang memotivasi ada juga yang membuat tertawa. Aku ingat, kelas 2 SMP pernah secara “tidak sengaja” menyiram Pak Taufik wakil kepala sekolah yang juga guru PKn, walhasil hukum seret jewer sampe depan kelas menjadi imbalan yang setimpal.hahahaa. Lain lagi dengan Pak Moel, guru geografi sederhana yang banyak mengajarkan mengenai falsafah hidup dadi wong urip ki kudu migunani tumprap liyan. Ada juga Pak Wahyu guru Fisika SMA yang meskipun prgmatis tetapi insipiratif, beliau mengatakan bahwa hidup ini keras dan kita harus mengalahkannya dengan kecerdikan. Masih banyak tentu saja, semuanya adalah orang-orang yang berjasa turut andil membentuk aku hari ini.

Tapi ada yang terlupa, 6 tahun aku juga di didik di Sekolah Dasar oleh guru yang kebetulan mereka adalah kedua orang tuaku. Tentu tidak setiap kelas, Ibu mengajar di kelas 1 dan 2 sedangkan Bapak sering berganti kelas dan lebih khusus mata pelajaran IPS. Bapakku orang yang sangat keras, aku ingat waktu itu kelas 6 SD, bersama dengan teman-teman cowok kami melakukan “persengkokolan jahat” membuntuti gadis ujung desa kakak kelasku. Dia satu tingkat di atasku, jadi waktu itu dia kelas satu SMP. Jarak SMP dari kampungku sekitar 7 km, jadi setiap hari kita harus naik angkutan untuk ke sekolah, jangan dibayangkan angkutannya seperti dikota, ini angkutan kecil mobil minibus jadul jenis colt yang hanya ngompreng  beberapa kali dalam satu hari, terlambat naik, kamu tidak akan bisa sekolah atau setidaknya mengambil pilihan kedua; sekolah jalan kaki. Dan kami bocah-bocah kecil ini melakukan tindak kejahatan secara bersama-sama “mengodai” kakak kelas kami yang baru pulang sekolah beramai-ramai. Apa yang kami lakukan sebenarnya? Seingatku hanya membuntuti dengan sepeda dan suitt..suittt dari jauh. Entahlah apa maksud kita waktu itu, kalo ingat kejadian itu aku sendiri cuman bisa tertawa terbahak-bahak. Kejadian ini –persengkokolan jahat-  kami lakukan beberapa kali, dan seperti halnya kejahatan lain, lama kelamaan baunya tercium juga. Suatu siang, aku tidak ingat kapan, satu persatu nama kami di panggil berbaris keluar kelas, waktu itu aku tidak tahu sama sekali kenapa aku di panggil keluar,dan yang ada dipikiranku kami adalah orang-orang terpilih yang akan diikutkan sebuah lomba. Ya, benar-benar itu yang ada di otak saat itu, yang membuatku berjalan bangga saat keluar kelas.

Kami dibariskan dihalaman sekolah, mungkin sekitar 8-12 orang seingatku, karena sudah siang sekitar jam 9 matahari cukup terik. Kita sama sekali tidak tahu, dengan pikiran akan ikut lomba kami bersemangat. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pak Tanto, bapakku. Setelah berbaris rapi, kami semua diajak untuk berlari, “hmm..lombanya harus latihan fisik dulu ternyata..”pikirku. Tanpa ada prasangka apa-apa, kami ikut dengan bersemangat. Sekolah kami terletak persis di tengah pusat desa, bayangkan kotak sebuah lapangan bola, sekolahku berada tepat dimana kick off pertandingan berlangsung, dan kami diminta berlari mengelilingi lapangan bola itu. Suasana yang begitu menyenagkan berubah seketika, selesai satu putaran  kami diminta berhenti di jalan kecil sebelah lapangan voli 20 meter dari rumah ku. Dengan raut wajah serius, bapakku berkata, aku tidak ingat persis tetapi kurang lebih begini “orang yang hebat selalu berani bertanggung jawab, siapa yang bikin Yani nangis?”  tak satu pun dari kami yang menjawab, semua hanya diam bisu. “oh ternyata ini” pikirku. Tentu bapak tidak hanya ngomong itu, ada pidato panjang sekali, dan dari pidato itu kami kemudian tahu bahwa orang tua kakak kelas kami itu melaporkan “tindakan tak menyenangkan” itu kepada sekolah. Pagi itu kami melakukan olah raga ekstra, push-up dan serangkaian hukuman lain menambah segar suasana, dan yang spesial untuk ku ada tambahan beberapa garis lebam batang spiun menghiasi paha dan kaki sebagai pelajaran ekstra. Ya, untuk hari ini kejadian tadi memang terasa keras, tetapi untuk siswa nakal seperti kami hal seperti itu dulu iasa sekitar 20 tahun lalu. Kenapa  aku mendapat hukuman ekstra? karena menurut bapak aku harusnya bisa mejadi contoh "baik" malah jadi pelaku persengkokolan jahat.

Itulah bapakku, Guru yang telah mengabdikan hidupnya untuk negeri ini 30 tahun lebih.  Pelajaran berharga yang aku petik dari kejadian itu adalah, hukum berlaku sama untuk siapa saja, bahkan harus di perberat untuk mereka yang seharusnya tidak (boleh) melangarnya. Seperti sikap hakim agung Artidjo, yang melipat gandakan hukuman Angelina Sondakh (anggota DPR RI) dan Irjen Djoko Susilo (Perwira Tinggi Polri), karena mereka orang yang seharusnya menjaga tegaknya hukum justru jadi maling, sehingga pantas untuk dilipat gandakan hukumannya. Selain itu ada pelajaran lain yang juga aku petik, ikatan keluarga tidak mengubah status kesalahan, meski itu anakmu sendiri salah tetaplah salah, tak ada bedanya. Pertanyaanya kemudian adalah jika Ibas ternyata benar terlibat korupsi seperti kata Anas Urbaningrum akankah SBY (bapaknya) juga tegas berkata “jadikan hukum sebagai panglima" seperti biasa atau kah tiba-tiba SBY mendadak berubah peran jadi pengacara? biar waktu yang menceritakanya pada kita kelak.

Itu baru cerita soal Bapakku, kapan-kapan aku sambung lagi cerita soal Ibu, kapan-kapan ya..tau sendiri penulis adalah pemalas. :D


Selamat Hari Guru, terima kasih Bapak dan Ibu! 

Komentar

  1. Casino Nightclub | Go Gaming Club and get the
    We're offering 빡촌 후기 a free night 토토 하는 법 of entertainment at the Casino Night Club. Enjoy all the 이스포츠 excitement of a 다 파벳 모바일 Las Vegas day at the Casino Night 라이브바카라게임 Club.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Minum teh di Rusia

Got dark. On a table, shining, The evening samovar hissed, The Chinese teapot heating up, Under it curled easy pairs … (Aleksander Pushkin)            Teh atau dalam bahasa ilmiah Camellia sinensis telah dikonsumsi oleh bangsa Cina lebih dari 5000 tahun. Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap itu, tetapi legenda populer dapat memberi pengetahuan kepada kita. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung, diperkirakan sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Menurut legenda pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut, Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut....

Hidup adalah Pertaruhan, beranikah kamu bertaruh untukku?

Sebagai manusia kita tentu pernah pada sebuah posisi sulit, pada proses pencarian tak berujung. Terkadang kita bertanya-tanya, kemana hidup akan membawa kita pergi, apakah ketempat harapan bersandar ataukah ke peraduan bersemayamnya kekecewaan dan cobaan. Jawabanya: tidak ada yang tahu. Satu-satunya yang pasti di dunia ini hanyalah bahwa kita akan mati, selebihnya tidak ada yang tahu.  Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan untuk "tahu" apa yang kita sukai, yakini atau cintai. Apakah sesuatu yang kita yakini atau seseorang yang kita cintai itu merupakan ujung pintu takdir; tidak ada yang tahu. Hidup adalah pertaruhan, karena kita tidak pernah tahu kemana takdir akan mengantarkan kita.  Kadang kita ditantang untuk melihat kebelakang saat seolah-olah didepan kita dihadang tembok tinggi kemustahilan, saat seolah-olah dunia memusuhi kita atau saat seolah-olah hanya kita yang bergelut dengan kenyataan. Hanya satu yang bisa saya katakan: jangan takut. Kegagalan, kekecewa...