Langsung ke konten utama

Hidup adalah Pertaruhan, beranikah kamu bertaruh untukku?

Sebagai manusia kita tentu pernah pada sebuah posisi sulit, pada proses pencarian tak berujung. Terkadang kita bertanya-tanya, kemana hidup akan membawa kita pergi, apakah ketempat harapan bersandar ataukah ke peraduan bersemayamnya kekecewaan dan cobaan.
Jawabanya: tidak ada yang tahu. Satu-satunya yang pasti di dunia ini hanyalah bahwa kita akan mati, selebihnya tidak ada yang tahu.  Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan untuk "tahu" apa yang kita sukai, yakini atau cintai. Apakah sesuatu yang kita yakini atau seseorang yang kita cintai itu merupakan ujung pintu takdir; tidak ada yang tahu.
Hidup adalah pertaruhan, karena kita tidak pernah tahu kemana takdir akan mengantarkan kita. 
Kadang kita ditantang untuk melihat kebelakang saat seolah-olah didepan kita dihadang tembok tinggi kemustahilan, saat seolah-olah dunia memusuhi kita atau saat seolah-olah hanya kita yang bergelut dengan kenyataan. Hanya satu yang bisa saya katakan: jangan takut. Kegagalan, kekecewaan dan pedih luka yang membuat kita layak disebut manusia. 
Ingatlah, manusia tidak akan pernah menginjak bulan tanpa membuat beberapa kesalahan, tanpa melewati perihnya kegagalan. 
Sering dalam hidup kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, dan seolah tak ada jalan keluarnya. Kita seperti berada dalam medan perang yang hanya tahu sedikit informasi musuh tetapi harus membuat keputusan maha besar, segera. Menyebalkan bukan, tapi itulah hidup, dan mengeluh tidak akan membawamu kemana-kemana, selain terapi kejiwaan sesaat.
Jika kamu sedang dalam persimpangan besar, dimana harus membuat keputusan atau kamu sedang dalam stagnasi emosional. Jangan panik, behentilah beberapa saat, lihatlah sekeliling, kumpulkan informasi,  keberanian dan percayalah pada keyakinan. Beruntung kita mahluk berpikir, berpeganglah pada apa yang kita yakini dan pada apa yang kita cintai.

Sekali lagi, hidup adalah pertaruhan, karena kita tak pernah tahu kemana takdir akan mengantarkan. Pertaruhkan semua yang kau punya untuk sesuatu yang kamu yakini, untuk seseorang yang kamu cintai atau orang-orang yang kamu bela. Dan selayaknya pertaruhan, tidak ada yang menjamin kamu akan berhasil, kamu bisa menang pun bisa kalah, bisa berhasil juga tidak kecil kemungkinan untuk gagal.

Lantas jika hidup adalah pertaruhan kenapa kita tidak perlu takut? 1. kita adalah manusia cerdas yang di anugerahi kemampuan berpikir, 2. kita membuat pilihan berdasarkan respon atas keadaan, dan yang ke 3. kalah atau gagal untuk sesuatu yang kita yakini atau seseorang yang kita cintai adalah cara cepat kita belajar menjadi manusia. 
Bukan begitu? :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak dan Ibuku, Terima kasih!

Ini bukan drama prosaik yang dimaksudkan untuk membuat pembacanya trenyuh bukan pula kisah heroik tentang pahlawan pembawa perubahan. Ini hanya cerita sederhana; selembar ucapan terima kasih. Kepada sepasang guru, yang biasa aku sebut Bapak dan Ibu. Aku dilahirkan disebuah desa kecil diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berdasar pembagian wilayah administratif desa itu berada di Kabupaten Wonogiri berbatasan langsung dengan Ponorogo. Hampir tak ada yang spesial dari desa ini, selain senyum ramah sapa warganya, hanya tanah kering tandus dan kemiskinan yang menjadi wajah lusuh desa kami. Tak heran, desa kelahiraku mendapat proyek bantuan IDT semasa Soeharto. Memang benar-benar desa tertinggal. Seingatku, listrik baru masuk menjelang aku lulus SD. Menonton televisi adalah kemewahan, beruntung keluarga simbah dulu punya satu, yang membuat rumah Simbah menjadi bioskop umum saat ada pertandingan tinju. Dulu, orang dikampungku ramah dan lucu-lucu. Ah, sudah aku tidak akan bercerit...

Sejarah Homoseksualitas di Rusia

Rusia pada jaman pertengahan terlihat sangat toleran terhadap homoseksualitas, ada bebrapa bukti yang menyebutkan adanya homoseksualitas dalam kehidupan orang-orang suci dari Rusia Kievan hingga abad ke-11. Perilaklu-perilaku homoseksual dianggap sebagai sebuah dosa oleh gereja ortodok, tetapi pada waktu itu tidak ada sanksi legal terhadap perilaku homoseksual, dan bahkan orang-orang gereja sendiri memperlihatkan ketertarikannya terhadap masalah homoseksualitas hanya apabila menyangkut persoalan  gereja. Pendatang-pendatang dari luar negeri yang menyambagi penduduk Moscow Rusia pada abad 16 dan 17 mengulangi kekaguman mereka atas keterbukaan hubungan homosekual diantara pria dari berbagai latar belakang kelas sosial di Rusia pada waktu itu.   Sigismund von Heberstein, Adam Olearius, Juraj Krizhanich, dan George Turberville semuanya menulis mengenai kelaziman perilaku homoseksual di Rusia dalam catatan perjalanan dan kenangan mereka. Sejarawan abad 19 Sergei Soloviev men...