Langsung ke konten utama

Postingan

[Catatan Perjalanan] Mendaki Papandayan: surga kecil di Garut (bag dua:selesai)

Warung si Emak  Kami sampai di Camp David sekitar jam 11 siang. Mampir di warung emak (entah siapa nama aslinya) untuk bersantap siang dulu, tambah asupan tenaga buat ke atas. Pilihan kami berempat tidak jauh berbeda, nasi, telor dadar dan mie. Lho kok ada mie? katanya ga sehat? yuupp..cuaca yang dingin dan kelaparan, ternyata menyulap Indomie ayam bawang, seperti Megan Fox sedang manyuun...sangat mengoda! Iman kami tak cukup kuat. Tapi setidaknya kami tidak makan mie ketika di atas gunung. #pembenaran .  Kawah Papandayan Sekitar 10 menit berjalan dari Camp David, kita akan berjalan melewati kawah Papandayan. Ada dua jalur, pilihlah jalur kanan, ini jalur yang umum di lewati pendaki. Ketika musim kering, asap yang keluar dari gelembung kawah tidak banyak, tetapi jiga musim hujan seperti sekarang, asap membumbung tebal, tebakan saya karena volume air yang terdidihkan meningkat produksi uap juga meningkat. *sok pinter*  Oya, jangan lupa, kita akan berjalan tepat ...

[Catatan Perjalanan] Mendaki Papandayan: Perjalanan Menghapus Luka (bag 1)

Ini kedua kalinya saya ke Papandayan, gunung eksotis dengan ketinggian 2665 Mdpl. Terletak sekitar 24 km dari kota kabupaten Garut, Papandayan merupakan objek paling tepat untuk melakukan pendakian wisata. Mari kita mulai ceritanya.  Berangkat dari Jakarta menggunakan Bus Primajasa Garut-Lebak Bulus dari pool primjasa di Cililitan sekitan jam 7 malam, ongkosnya 35 ribu. Saya sampai di terminal Garut sekitar jam 11 malam, seperti para gembel backpaker lainnya tempat pertama yang dituju adalah Masjid dan Mushola, bukan (sekedar) untuk sembahyang tapi sekaligus untuk mencari tempat istirahat + fasilitas urinoir gratis. Sungguh T E R L A L U.  Ngemper di Masjid Malam itu mungkin karena long weekend , banyak sekali teman-teman lain yang juga melakukan pendakian dan menginap di emperan masjid, tidak semuanya berencana ke Papandayan sebagian memutuskan mendaki Cikuray.  Perjalanan ke Papandayan kali ini, di ikuti 4 orang. Satu teman berangkat bersama dari Jakarta, 2 or...

Sejarah Homoseksualitas di Rusia

Rusia pada jaman pertengahan terlihat sangat toleran terhadap homoseksualitas, ada bebrapa bukti yang menyebutkan adanya homoseksualitas dalam kehidupan orang-orang suci dari Rusia Kievan hingga abad ke-11. Perilaklu-perilaku homoseksual dianggap sebagai sebuah dosa oleh gereja ortodok, tetapi pada waktu itu tidak ada sanksi legal terhadap perilaku homoseksual, dan bahkan orang-orang gereja sendiri memperlihatkan ketertarikannya terhadap masalah homoseksualitas hanya apabila menyangkut persoalan  gereja. Pendatang-pendatang dari luar negeri yang menyambagi penduduk Moscow Rusia pada abad 16 dan 17 mengulangi kekaguman mereka atas keterbukaan hubungan homosekual diantara pria dari berbagai latar belakang kelas sosial di Rusia pada waktu itu.   Sigismund von Heberstein, Adam Olearius, Juraj Krizhanich, dan George Turberville semuanya menulis mengenai kelaziman perilaku homoseksual di Rusia dalam catatan perjalanan dan kenangan mereka. Sejarawan abad 19 Sergei Soloviev men...

Tradisi Minum teh di Rusia

Got dark. On a table, shining, The evening samovar hissed, The Chinese teapot heating up, Under it curled easy pairs … (Aleksander Pushkin)            Teh atau dalam bahasa ilmiah Camellia sinensis telah dikonsumsi oleh bangsa Cina lebih dari 5000 tahun. Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap itu, tetapi legenda populer dapat memberi pengetahuan kepada kita. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung, diperkirakan sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Menurut legenda pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut, Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut....