Langsung ke konten utama

Postingan

Bapak dan Ibuku, Terima kasih!

Ini bukan drama prosaik yang dimaksudkan untuk membuat pembacanya trenyuh bukan pula kisah heroik tentang pahlawan pembawa perubahan. Ini hanya cerita sederhana; selembar ucapan terima kasih. Kepada sepasang guru, yang biasa aku sebut Bapak dan Ibu. Aku dilahirkan disebuah desa kecil diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berdasar pembagian wilayah administratif desa itu berada di Kabupaten Wonogiri berbatasan langsung dengan Ponorogo. Hampir tak ada yang spesial dari desa ini, selain senyum ramah sapa warganya, hanya tanah kering tandus dan kemiskinan yang menjadi wajah lusuh desa kami. Tak heran, desa kelahiraku mendapat proyek bantuan IDT semasa Soeharto. Memang benar-benar desa tertinggal. Seingatku, listrik baru masuk menjelang aku lulus SD. Menonton televisi adalah kemewahan, beruntung keluarga simbah dulu punya satu, yang membuat rumah Simbah menjadi bioskop umum saat ada pertandingan tinju. Dulu, orang dikampungku ramah dan lucu-lucu. Ah, sudah aku tidak akan bercerit...
Postingan terbaru

Hidup adalah Pertaruhan, beranikah kamu bertaruh untukku?

Sebagai manusia kita tentu pernah pada sebuah posisi sulit, pada proses pencarian tak berujung. Terkadang kita bertanya-tanya, kemana hidup akan membawa kita pergi, apakah ketempat harapan bersandar ataukah ke peraduan bersemayamnya kekecewaan dan cobaan. Jawabanya: tidak ada yang tahu. Satu-satunya yang pasti di dunia ini hanyalah bahwa kita akan mati, selebihnya tidak ada yang tahu.  Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan untuk "tahu" apa yang kita sukai, yakini atau cintai. Apakah sesuatu yang kita yakini atau seseorang yang kita cintai itu merupakan ujung pintu takdir; tidak ada yang tahu. Hidup adalah pertaruhan, karena kita tidak pernah tahu kemana takdir akan mengantarkan kita.  Kadang kita ditantang untuk melihat kebelakang saat seolah-olah didepan kita dihadang tembok tinggi kemustahilan, saat seolah-olah dunia memusuhi kita atau saat seolah-olah hanya kita yang bergelut dengan kenyataan. Hanya satu yang bisa saya katakan: jangan takut. Kegagalan, kekecewa...

Berdamai dengan masa lalu

Hari ini saya berada di pojok sebuah restoran cepat saji, di luar hujan masih saja turun, hingga gerimisnya mengenangi sebagian kenangan atas Jakarta. Dingin sekali disini. Entah kenapa restoran cepat saji ini memasang suhu yang terlalu dingin untuk pendingin ruangan, atau ini perasaanku saja. Saat ini Thamrin sedang tergenang, akibat hujan yang datang berlebihan. Seperti biasa, sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik. Hujan seperti halnya kenangan, terkadang datang tiba-tiba, meluapkan ruang-ruang kenyataan  membawa kita lupa pada perasaan kalah, pada ketakutan, pada intimidasi hari esok. Kita membutuhkan ingatan atas kenangan, agar kita mampu melihat hari esok lebih bijak dan menjadi lebih optimis bukan menjadi begitu pesimis. "Orang yang optimis membuat pesawat, orang yang pesimis membuat parasut" ada benarnya memang kutipan ini. Tulisan saya sebelumnya menyimpan makna-makna ketakutan, dan mengajarkan pesimisme menaklukkan kenangan. Saya...

[Catatan Perjalanan] Mendaki Papandayan: surga kecil di Garut (bag dua:selesai)

Warung si Emak  Kami sampai di Camp David sekitar jam 11 siang. Mampir di warung emak (entah siapa nama aslinya) untuk bersantap siang dulu, tambah asupan tenaga buat ke atas. Pilihan kami berempat tidak jauh berbeda, nasi, telor dadar dan mie. Lho kok ada mie? katanya ga sehat? yuupp..cuaca yang dingin dan kelaparan, ternyata menyulap Indomie ayam bawang, seperti Megan Fox sedang manyuun...sangat mengoda! Iman kami tak cukup kuat. Tapi setidaknya kami tidak makan mie ketika di atas gunung. #pembenaran .  Kawah Papandayan Sekitar 10 menit berjalan dari Camp David, kita akan berjalan melewati kawah Papandayan. Ada dua jalur, pilihlah jalur kanan, ini jalur yang umum di lewati pendaki. Ketika musim kering, asap yang keluar dari gelembung kawah tidak banyak, tetapi jiga musim hujan seperti sekarang, asap membumbung tebal, tebakan saya karena volume air yang terdidihkan meningkat produksi uap juga meningkat. *sok pinter*  Oya, jangan lupa, kita akan berjalan tepat ...

[Catatan Perjalanan] Mendaki Papandayan: Perjalanan Menghapus Luka (bag 1)

Ini kedua kalinya saya ke Papandayan, gunung eksotis dengan ketinggian 2665 Mdpl. Terletak sekitar 24 km dari kota kabupaten Garut, Papandayan merupakan objek paling tepat untuk melakukan pendakian wisata. Mari kita mulai ceritanya.  Berangkat dari Jakarta menggunakan Bus Primajasa Garut-Lebak Bulus dari pool primjasa di Cililitan sekitan jam 7 malam, ongkosnya 35 ribu. Saya sampai di terminal Garut sekitar jam 11 malam, seperti para gembel backpaker lainnya tempat pertama yang dituju adalah Masjid dan Mushola, bukan (sekedar) untuk sembahyang tapi sekaligus untuk mencari tempat istirahat + fasilitas urinoir gratis. Sungguh T E R L A L U.  Ngemper di Masjid Malam itu mungkin karena long weekend , banyak sekali teman-teman lain yang juga melakukan pendakian dan menginap di emperan masjid, tidak semuanya berencana ke Papandayan sebagian memutuskan mendaki Cikuray.  Perjalanan ke Papandayan kali ini, di ikuti 4 orang. Satu teman berangkat bersama dari Jakarta, 2 or...

Sejarah Homoseksualitas di Rusia

Rusia pada jaman pertengahan terlihat sangat toleran terhadap homoseksualitas, ada bebrapa bukti yang menyebutkan adanya homoseksualitas dalam kehidupan orang-orang suci dari Rusia Kievan hingga abad ke-11. Perilaklu-perilaku homoseksual dianggap sebagai sebuah dosa oleh gereja ortodok, tetapi pada waktu itu tidak ada sanksi legal terhadap perilaku homoseksual, dan bahkan orang-orang gereja sendiri memperlihatkan ketertarikannya terhadap masalah homoseksualitas hanya apabila menyangkut persoalan  gereja. Pendatang-pendatang dari luar negeri yang menyambagi penduduk Moscow Rusia pada abad 16 dan 17 mengulangi kekaguman mereka atas keterbukaan hubungan homosekual diantara pria dari berbagai latar belakang kelas sosial di Rusia pada waktu itu.   Sigismund von Heberstein, Adam Olearius, Juraj Krizhanich, dan George Turberville semuanya menulis mengenai kelaziman perilaku homoseksual di Rusia dalam catatan perjalanan dan kenangan mereka. Sejarawan abad 19 Sergei Soloviev men...